Yang saya baru tau:
Ternyata air di Singapura bisa langsung diminum dari keran :D Padahal airnya masih beli dari Malaysia loh...

Singapura kekurangan generasi muda. Kawinnya telat and kalo dah kawin juga males punya anak. Biaya hidup tinggi katanya. Akibatnya yang nyetir taksi, jaga resto, ngangkat barang di airport, udah pada tua-tua semua. Kesian juga!

Jadwal bis-nya rapi banget, schedule dari bis ke bis udah sedemikian precise. Kayak di airport aja...! Plus di halte ada info rute, no. bis dan harga untuk masing-masing jurusan. Mantaf...

Singapura bersih dan berkomitmen menjaga kebersihan. Konon kalo ketauan buang sampah sembarangan, selain didenda dalam jumlah besar, nanti juga harus bersih-bersih di tempatnya membuat sampah itu dengan menggunakan rompi warna kuning yang fungsinya agar diliatin orang banyak *efek jera* Lumayan malu2in juga...

Singapura terus membangun. Mereka sedang mempersiapkan Universal Studio (!) yang katanya akan available tahun depan. Juga Kasino untuk para turis (tahun depan juga). Penduduk Singapura dilarang berjudi, mereka diwajibkan bekerja keras. Biar turis aja yang main judi. That's why untuk masuk kasino, gratis buat turis, dan warga Singapore musti bayar mahal.

Yayasan penyalur maid keren kantornya :p

Warnetnya juga ada, S$ 1 per jam atau Rp 7.000 yah kurang lebih sama lah sama di sini... cuma kecepatan lebih kenceng dan lebih stabil. Waktu di kamar hotel juga dapet internet dan puas banget makenya!

Yang namanya ngantri taksi pasti amit-amit. Apa kekurangan taksi yak... mungkin perlu impor supir taksi dari Indonesia juga. *mengingat armada Jakarta aja bejibun :P*

Ini pola untuk sepatu cowok di budaya Peranakan. I wonder, masnya stylish juga...

Ternyata ada penunjuk kiblat juga di hotel Grand Mercure Roxy, Singapore :D

Di Singapore, kalau mau punya mobil itu mahal. Mobilnya harus mobil keluaran baru, maksimal 10 tahun umurnya. Trus kalo belum punya SIM ya harus belajar dulu di tempat kursus yang ditunjuk negara (bayar). Trus mobilnya juga dipasangin alat buat naruh kartu parkir (duit lagi dah tuh). Jadi tiap parkir ya tinggal masuk aja ntar ke-detect. Di tiap sudut jalan juga ada layar tempat informasi total parkiran yang masih available di gedung-gedung tertentu. Uniknya, gedungnya bisa jadi masih jauh, tapi info parkirannya udah dikasi tau. Biar gampang kalo berubah pikiran kali ya :p

Ada yang bisa nyebutin fakta Singapura lainnya? :)
Orignal From: Singapore Facts
Lanjutan dari Singapore East Coast Trip [Part 1]
Ngomong-ngomong soal makanan, saya dan Trinity adalah happy survivors dari kejadian 'makan enak membabi buta' selama di Singapura :D Di restoran Jia Wei, Lt. 2 hotel Grand Mercure Roxy, kita disuguhi 7 menu makan malam seafood yang super lezat. Favorite saya adalah Lobster dengan keju di atasnya. Yang bikin istighfar, menu makan malam kita diakhiri dengan nasi, yang tentu saja membuat kita yang sudah kekenyangan tambah megap-megap. Untuk kembali ke kamar hotel saja saya harus merayap kayak ulat bulu kekenyangan :D

Lebih gila lagi pas makan di Jumbo Restaurant. Di restoran seafood yang rame banget ini, kami disuguhi hingga 11 menu (Crispy-fried Baby Squid, Donut with Seafood Paste, Scallop Wrapped in Yam Ring, Herbal Drunken Prawns, Beef Fillet with Pepper Sauce, Stir-fried Asparagus in XO Sauce, Deep Fried Marble Goby (Soon Hock/Ikan Malas) with Oyster Sauce, Chilli Crab with Deep Fried Man Tou, Black Pepper Crab, Supreme Seafood Fried Rice, Fresh Fruit Platter)! Untung kali ini makannya rame-rame, jadi bisa ngambil dikit-dikit :D Makanan di sini enak-enak semua! Favorite saya adalah Black Pepper Crab. Dua porsi kepiting yang dikasih: The award winning Chili Crab dan Black Pepper Crab, besar capitnya aja sebesar muka orang, dagingnya banyak banget. Katanya ini Srilanka Crab.



Amaze banget sama Candice dari Jumbo Restaurant. Gimana caranya dia makan kepiting dengan kuku kayak gini? :D Salut!

Pas lagi ngobrol di sini, Estelle PR dari Jumbo, cerita tentang senangnya tinggal di hotel (waktu dia ada kerjaan dan harus tinggal di hotel berbulan-bulan). Bisa pergi meninggalkan kamar dalam keadaan berantakan, dan pas kembali sudah rapi seperti sedia kala, nggak seperti sekarang saat di rumahnya sendiri. Kalau berantakan ya nanti pulang kantor harus diberesin sendiri, nggak akan bersih dengan sendirinya. Dalam hati saya merasa beruntung tinggal di Indonesia (relatif lebih gampang punya maid). I pretty much left all the mess then off to work and come back to a bright polished house plus food at my dining table. Thanks to my maid, I can focus on achieving my goals and loving my husband!
For 'normal' food, kita juga dapet di food court sebelah Parkway parade, seberang hotel. Pick Muslim & Halal Food aja biar lebih aman. Ada Nasi Padang, Ayam Penyet, dan makanan Indonesia lainnya :D

Oh ya, lupa cerita, Parkway parade itu shopping center yang letaknya hanya selemparan batu dari hotel Grand Mercure Roxy. Di situ ada berbagai brand local Singapore seperti Charles & Keith, trus yang paling menyenangkan: ada BORDERS! Saya memilih-milih buku diskon 50% di situ yang bagus-bagus banget, dan nggak lama kemudian bergabung sama Trinity di rak Travel Writing. Kita duduk sambil milih-milih buku travel termurah hehe. Akhirnya pilihan saya jatuh ke Around the World in 80 Dates. Tentang seorang wanita yang mencari jodoh dengan blind date dengan 80 cowok-cowok dari seluruh dunia. Konsep kisah nyata ini keren dan cara Jennifer Cox menuliskannya juga asik banget. Baca deh!


Di sebelah Parkway Parade mall, deket McD, ada toko buku bekas. Saya dan Trinity semangat banget ngelihatnya. Tapi sayang nggak sempat kembali kesana, cuma lewat doang. Maybe next visit ya!

Setelah capek jalan-jalan kesana kemari, kita berdua diboyong untuk Spa dengan Sea Salt scrub di Body Countours (Lt. 4 hotel). Teknik mijet yang dipake adalah Shiatsu. Sebagai penggemar pijet, saya sangat menikmati kesempatan ini! Apalagi kesempatan melihat The Naked Traveler, Trinity herself, getting Naked!! Priceless :D (Jangan minta fotonya ya, meskipun I know this statement worth nothing without a snapshot haha)

So, after all the food carnaval mentioned above, me and Trinity have to try very hard to cover our tummy on every photos. Sometimes we must take photo 2x just because we forgot to cover it on the first shot :D


Now I know why Grand Mercure Roxy had Fitness Center on Level 4! :D

It's an honour for us to meet Abang Edwin, Community Manager of Yahoo! Mas Budi Putra yang rekomendasiin Abang untuk ketemu sama kita berdua mumpung kita lagi di Singapore. Jadilah interview video dadakan tersebut dilaksanakan di Roxy Bar level 4 dengan background kolam renang. Yang kita bicarain antara lain soal blog, bagaimana awal kita ngeblog dan gimana kok bisa sampai jadi professional blogger seperti sekarang ini :D Kalau pengen denger cerita kita, sabar dulu ya, Bang Edwin lagi mempersiapkan videonya. I'll let you know!

For all these wonderful experience, big thanks to all Accor Hotels + Grand Mercure Roxy Hotel team: Reza, Kevin, David, Betty, Keane, Priscilla, Carol, F&B section :D Thanks for your hospitality and the opportunity. Hope to see you again soon! Also thanks to FunVee: Isabella & Zali for staying with usin a city tour on your tight schedule, and Jumbo Restaurant: Benji, Candice & Estelle for the great food and stories.
Last but not least, thank you my husband to let his wife fly away for 4 days and come back to pay the absence off with special seafood fried rice on Sunday.
Let's celebrate life! Spend holidays in Singapore with unique way of DISCOVER SINGAPORE from Grand Mercure Roxy!
Check out: more pictures of my Singapore East Coast Trip 2009 on Flickr.
Orignal From: Singapore East Coast Trip [Part 2]
Pack my bag lagi, kali ini ke Singapore! Mungkin kalau ditanya, "Sudah pernah ke Singapur?" Lumayan banyak orang Indonesia akan menjawab, "Sering!" Maklum, kita terkenal doyan belanja dan Singapur adalah tempat terdekat untuk menyalurkan nafsu belanja itu :P Anyway, saya juga sudah 2 kali ke Singapura. Setiap kali, pasti langsung menuju Orchard Road, Little India, Bugis, dll yang semuanya sangat kental aroma belanjanya. What can I say, I'm Indonesian :P
Jadi begitu hotel Grand Mercure Roxy Singapore (bintang 4), mengajak saya jalan-jalan meng-eksplore daerah East Coast dan sekitarnya. I was like, Huh? East Coast? Sebelah mananya Orchard? :D Setelah 4 hari jalan-jalan disana saya baru sadar, selama ini ternyata saya telah melewatkan sisi lain Singapura yang sarat keindahan alam dan pelestarian budaya peranakan.
Yang membuat perjalanan saya ke Singapura kali ini semakin menarik adalah dengan bergabungnya Trinity menjadi Travel Buddy saya. Seperti yang kita semua sudah tahu, Trinity adalah penulis buku best seller The Naked Traveler, yang telah backpacking keliling dunia (sendirian)! You can imagine how excited I was to meet and spend Singapore trip with her :D She's slightly different from what I imagine about the Trinity character on the book. Okay, MUCH different :P

Trinity is very independent but also know how to share, very outspoken like typical Bataknese but also can speak fluent Javanese and have a soft part inside of her :P, she's on time and didn't have much hassle about appereance, she digest food real fast :D, she walks fast (unlike most Indonesian) and with her, I can relax a bit. I always the one who lead and told people what to do, this time, because Trinity has stonger character than me (which is rare to find), I can follow her path and just enjoy the whole journey. Perfecto :D
Sampai di Changi Airport, jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang (waktunya lebih cepat 1 jam dari Jakarta). Perjalanan menggunakan ValuAir memakan waktu sekitar 1 jam 20 menit. Cepet banget, nggak kerasa udah nyampe. Di depan pintu keluar penjemput kami sudah tersenyum dengan ramah. Ya, Grand Mercure Roxy memang memberikan fasilitas Free Shuttle Service dari Airport ke hotel dan sebaliknya. Shuttle service ini ada setiap 30 menit, jadi nyaman sekali untuk ukuran orang yang selalu bingung nyari transport ke hotel seperti saya :P

Sepanjang jalan menuju hotel saya menyaksikan kembali bersih dan teraturnya Singapore dengan pohon-pohon rindang yang membuatnya seperti kota di dalam taman. Jalanan juga terlihat lengang. Mungkin karena hanya sekitar 5 juta orang yang tinggal di negara ini. Bandingkan dengan KOTA Jakarta yang memiliki hampir 10 juta penduduk. Hanya 15 menit kami sudah tiba di hotel Grand Mercure Roxy, Singapore di East Coast Rd. Kami langsung diajak untuk makan siang bersama Executives dari Grand Mercure Roxy. Kevin & David got British accent, Betty & Keane have Singapore English accent. And I got hearing problem from the flu. Perfect. I frowned everytime they speak. Thank God Trinity make a lot of conversations, so I didn't have to talk that much haha.

Setelah nambah pasta berkali-kali di Italian Buffet-nya restoran Feast&East (Di lantai 3 hotel), kita diajak ngelihat kamar kita dan tour keliling ngelihat Suite Room hotel. Kita stay di Deluxe Room yang sangat nyaman. Dulu, saya sempat berpikir, saat traveling kamar hotel itu nggak penting, yang penting jalan-jalannya. Tapi setelah kejadian AC panas dan tempat tidur keras di crappy room berkipas angin di Jogja dengan harga yang sama tingginya dengan 'kamar normal', saya jadi berubah pikiran. Setelah capek jalan-jalan kita mau istirahat di tempat yang nyaman, dan bisa recharge agar lebih segar esok harinya. Mungkin kalo bandingin sama Jogja kejauhan. Pas ke Singapore dulu juga sempat stay di Apartment dan Hotel dekat Orchard dengan harga yang mahal dan kenyamanan yang jauh banget dari yang saya dapat di Grand Mercure Roxy.




Tapi kan East Coast Road jauh dari Orchard?!
Kalau udah biasa sama traffic Jakarta, jalan dari Grand Mercure Roxy ke Orchard Rd yang cuma 30 menit pasti nggak bisa dibilang jauh. Saya udah coba langsung naik public bus no. 76 ke Orchard dari depan hotel. Biayanya cuma S$1.80. Turunnya persis di halte belakang Ion Orchard Mall. Ini Mall besar baru di Orchard. Arsitekturnya keren loh. Isinya juga sudah pasti lengkap. Dari Ion lanjut jalan menyusuri Orchard yang udah penuh ornamen Natal (Christmas come early :D). Berhenti di Orchard Central, Mall baru juga nih. Seru banget exploringnya karena gedung ini instead of lebar, dia slim (memanjang ke atas). Jadi patung dan pohon natalnya juga slim-slim :D Pulangnya kita naik taksi dari sampingnya Orchard Central.

Dari hotel ke Singapore Flyer cuma 10 menit. Ini pertama kalinya saya naik Singapore Flyer: kincir raksasa yang menawarkan pemandangan Singapura dari ketinggian hingga 165 m. Saya dan Trinity sampe lari-lari karena kita punya sedikit waktu sebelum ikutan city tour. Ternyata Singapore Flyer ini nggak pernah berhenti. Tapi jalannya sangat pelan, hingga waktu 1x muternya bisa sampai 30 menit. (Nggak kayak yang di pasar malam dadakan di lapangan yang muternya bisa 10 kali haha). Pemandangan dari atas Singapore Flyer benar-benar indah banget. Semua orang sibuk berfoto, termasuk kami berdua :P



Di gedung yang sama, kita bisa daftar dan ikutan BumBoat dan City Tour dengan bis atap terbuka dari FunVee. Dulu dari Merlion saya pernah lihat orang naik Duck Boat yang bisa terjun dari darat ke air seperti bebek ini. Alhamdulillah saya bisa ikutan naik bebek juga :D Sayangnya saat city tour naik bis atap terbuka, hujan tiba-tiba turun. Terpaksa harus di dalam bis dan nggak bisa motret karena kaca bis penuh titik-titik air. Tapi dari city tour ini saya jadi ngerti tempat-tempat menarik yang mungkin akan saya kunjungi lagi nanti. Saya melihat big picture-nya dulu sebelum deciding my favorite spot to visit.


FYI, Hotel Grand Mercure Roxy menyediakan promo paket DISCOVER SINGAPORE dengan paket menginap yang sudah termasuk city tour (dan benefit lainnya) di dalamnya. Wah enak deh jadi nggak ribet cari tour lagi!
Dari hotel ke daerah Katong yang sarat budaya peranakan memakan waktu 5 menit saja. Maklum area ini berada persis di belakang hotel. Tinggal koprol! Budaya peranakan adalah budaya China yang berpadu dengan budaya lokal (Melayu/India) yang kemudian disebut Baba Malay. Laki-lakinya dipanggil Baba dan perempuan dipanggil Nyonya. Di daerah Katong bisa kita lihat arsitektur peranakan yang kental pada bentuk rumah, jendela, pintu dan detail lainnya. Di Katong juga ada toko Kim Choo yang menjual souvenir peranakan. Most of them sangat lekat dengan budaya Indonesia. Seperti rantang, congklak, batik, kebaya encim, sepatu manik-manik, dan... Sundari Soekotjo's Bengawan Solo :D



Kami juga sempat diajak mampir ke rumah Alvin Yapp, pria single, available and looking (hehe you requested this, Alvin!), yang mempunyai passion yang besar pada budaya Peranakan. Rumahnya (yang masih di daerah Katong), dinamakan The Intan yang filosofinya dalem banget. Dan tulisan Jln Intan sendiri itu vintage yang dulu benar-benar pernah dipake untuk nunjukin jalan. Nggak hanya itu, rumahnya sendiri udah kayak gallery untuk budaya peranakan. Dari aksesoris hingga lantainya disesuaikan dengan jaman peranakan. Kami banyak bertanya tentang budaya Peranakan sama Alvin, dan dia menjawab dengan bersemangat dan mata yang berkilauan. I love that kind of passion :D Rumah Alvin bisa digunakan untuk party atau acara seru lainnya. Just check out The Intan website for more info!


Di Katong ini juga saya lihat ada kura-kura di dalam akuarium di depan sebuah toko. Saya langsung berteriak dengan senang, "Turtles!" Carol, yang menemani saya langsung menanggapi, "Yeah, they make turtles soup too." I think I turned pale blue for 5 seconds. I'm shocked. I was about to say, "They're so cute, I have 3 of them at home!" ~.~

Untuk ke East Coast beach, hanya butuh 5 menit bersepeda dari hotel. Udah 10 tahun kali nggak sepedaan, tapi ternyata bener, nggak lupa tuh caranya :P Saya dan Trinity sepedaan melewati lampu merah dengan damai. Nggak ada yang 'seruduk menyeruduk' di sini. Motor pun tak kelihatan. Kita lanjut perjalanan melewati terowongan menuju pantai. Ada tanda di situ yang bilang kalau kita harus turun dan menuntun sepeda kita. Denda S$ 1000 kalo melanggar. Dengan patuh, kita pun turun dari sepeda. (By the way, saking banyaknya peraturan di Singapur, kami jadi suka parno sendiri dan saling memperingatkan jangan sampe kena denda dengan konyol :D).


Nggak lama, kami sampai di pinggir pantai. Seperti pantai di Bengkulu (Pantai Panjang), pantai East Coast pinggirannya juga dipenuhi pohon pinus dari East Coast Park. Bedanya, di Bengkulu hanya ada jalan untuk mobil. Sedangkan di East Coast, ada 2 jalur, yang satu untuk pejalan kaki, dan satunya lagi untuk jogging, sepeda dan roller blade. Kami pun menyusuri pantai dengan riang gembira. Udaranya segar karena banyak pohon dan pantainya bersih sekali padahal ini adalah pantai tempat 'hang out'-nya berbagai kapal tanker. Bandingin sama Tanjung Priuk :P


Setelah 15 menit sepedaan, stamina langsung merosot karena kehausan. "Beli teh botol yuk!" Dan kami pun melanjutkan perjalanan mencari minum. Ternyata nggak ada yang jualan di sepanjang jalan (emangnya Anyer :D). Mungkin ada tapi di ujung sebelah mana kita nggak tau, dan kita nggak kuat lagi. Akhirnya kita berhenti di bawah sebuah pohon. Saya tiduran di bangku taman sambil memandangi langit biru dihiasi pohon pinus, dan Trinity... merokok.


Oh ya, saya lupa cerita kalau Trinity adalah perokok berat. Meskipun kebanyakan tempat Singapura adalah no smoking area, tapi dia cukup kreatif mencari tempat, situasi dan kondisi untuk merokok. You guys should ask her for tips and trick :P

Setelah puas foto-foto di menghirup udara segar di East Coast, kita bersepeda lagi ke Katong untuk makan Laksa terkenal di Singapura: Katong Laksa! Sekitar 10 menit sepedaan, kita sudah duduk manis menunggu Laksa kita dianter. Setelah mencoba, ternyata Laksa-nya enak banget. Beda lah dengan Laksa yang biasa kita makan. Special pake kerang lagi!


Continue to Singapore East Coast Trip [Part 2]
Orignal From: Singapore East Coast Trip

Tanggal 6 November 2009 lalu Kutukutubuku.com diundang oleh Mojopia, perusahaan anak perusahaan Telkom, untuk ngobrolin bisnis online alias e-commerce di event Indocomtech 2009. Saya mewakili Kutukutubuku.com untuk ngobrolin tentang pengalaman dan suka duka berbisnis online di booth-nya Plasa.com.
Loh, tadi Mojopia, kok sekarang Plasa.com?? Jadi Plasa.com itu adalah produk dari Mojopia. Rupanya mereka sedang dalam proses re-branding Plasa.com. Tadinya Plasa.com adalah portal segala ada, sekarang mau dirubah menjadi 'Mall online' tempat berbagai macam toko online bisa jualan dengan mudah. Dengan fasilitas seperti pembayaran kartu kredit, promosi besar-besaran ala big corporate dan meminjam nama besar Telkom, diharapkan customer akan lebih merasa nyaman dan aman berbelanja di sini dan para entrepreneur bisnisnya semakin lancar. Cocok banget untuk UKM yang baru start bisnis online dan memiliki produk ready stock.

Cara mendaftar di Plasa.com gimana? Duh gimana yah *lupa* hihi. Kemarin sih langsung daftar ke booth Plasa.com di Indocomtech. Rencananya beta version launch sekitar Desember 2009. Gini aja, yang minat langsung comment di post ini aja ya biar bisa di-follow up sama Mojopia :D Syaratnya gampang: punya KTP + NPWP.

Talkshow berlangsung dengan semangat dan ada juga beberapa teman dunia maya yang menyempatkan hadir untuk nanya-nanya dan dapet hadiah juga tentunya hehe :D

Hari sebelumnya, suami tercinta mas Unwinged juga ngomong di booth Plasa.com untuk GantiBaju.com. Nggak janjian loh :D
To Mojopia, thank you atas undangannya dan semoga sukses untuk Plasa.com ^^
Orignal From: Kutukutubuku.com on Indocomtech 2009
Mari kita bicara soal penulisan. Sekarang ini banyak yang nanya gimana caranya saya bisa nulis tentang macam-macam hal di blog dan bahkan pernah kerja jadi freelance writer untuk blog asing yang membahas tentang keuangan trus dapet $ dari situ padahal sama sekali nggak pernah kerja di bidang keuangan. Kok bisa? Pertanyaan yang sama ditanyakan juga beberapa tahun yang lalu saat saya menulis Je M'appelle Lintang yang setting-nya di Paris. Kok bisa, belum pernah ke Paris tapi nulisnya seakan-akan udah tinggal lama disana? Jawaban atas semua pertanyaan itu adalah: RISET. Sekarang dengan adanya internet (dan Google), melakukan riset itu nggak sesulit jaman dulu. Ada teknik-tekniknya agar semakin mudah melakukan pencarian dan ternyata ada banyak cara lain melakukan riset di internet, nggak cuma melalui search engine aja. Trus teknik risetnya gimana? Gimana biar jadi from zero to hero? Gimana caranya mulai dari mempersiapkan bahan riset, mengumpulkan hingga menuliskannya? Untuk menjawabnya, saya membuat sebuah Ebook 80 halaman berformat PDF yang berjudul Inspirasi.Net ^^ Apakah Ebook ini gratis? Iya gratis, tapi hanya 2 bab pertama. Sisanya beli ya hehehe. Harganya Rp 50.000 Kalau biasanya jualan buku paperback, sekarang jualan digital book, new experience for me :D Karena masih mengukur kemampuan saya sendiri dalam memproduksi Ebook, maka untuk 10 orang pertama yang beli Ebook ini, saya kasih special price Rp 10.000 dengan catatan habis membaca harus me-review Ebook ini ^^V

Namanya cewek... baru ketemu sebentar aja bisa ngobrol panjaaang lebaar tentang macem-macem hal terutama tentang kehidupannya sendiri yang berhubungan dengan orang lain. Mulai dari masalah anak, pembantu, pacar, suami, hingga gosip artis terbaru pasti langsung keluar di 5 menit pertama. Pantesan, gue perhatiin, temen gue kok pinter banget bikin gue ngomong sebanyak ini. Ternyata dia mengulik-ngulik masalah perkawinan: salah satu topik yang disenangi wanita (termasuk gue). Akhirnya langsung ngobrol deh panjang dan lama :D
Gue sendiri termasuk orang  yang cukup pendiam (jangan protes :P) dan agak lebih laki-laki dibandingkan wanita pada umumnya. But still, gue juga butuh teman curhat! Curhat sama suami memang bisa juga, tapi nggak tau kenapa kalo curhat sama sesama cewek rasanya lebih asyik aja.
Temen wanita bisa punya sudut pandang yang sama dan mengerti banget gimana harus bersikap, sehingga proses curhat biasanya berjalan lanjar dan damai. Sering ngalamin kan kalo curhat ke cowok itu ujung-ujungnya berantem? Soalnya mereka suka coba ngasih solusi yang kadang-kadang nggak kita butuhkan hihi. Come on guys, we just wanted you to listen :P
Saat ini saya memiliki 3000 ++ friends di Facebook dan beberapa social networking website lainnya. Tapi sesungguhnya yang truly  my bestfriends itu jumlahnya sangat sedikit sekali. Ternyata untuk curhat dan having a very close relationship with a woman bestfriend, we still need a chemistry.
Jadi wondering, dengan kondisi masyarakat urban yang cenderung cuek dan berirama cepat seperti sekarang, bisa nggak ya teman-teman yang lain dengan mudah mendapatkan curhat buddy? Someone that we could contact anytime (even in the middle of the night). Someone who will listen to us when we're having a heartbreak, happy to get a raise, sad because of stupid family things, give us tips to cure the pimples and watch our food while we're on diet, comfort and lift us up when we need the most. Kayaknya semua itu udah semakin susah ditemukan deh apalagi di kota besar!
I once asked my friend, "Kok di Indonesia nggak ada ya layanan hotline curhat gratis?"
Mungkin dengan curhat, teman kita batal pake narkoba.
Mungkin dengan curhat, teman kita nggak jadi bunuh diri.
Mungkin dengan curhat, masa depan sahabat kita bisa diselamatkan.
Mungkin dengan curhat, sahabat kita bisa menjadi orang yang lebih baik.
Yuk teman-teman, kita bersatu padu dan membuka diri untuk menjadi tempat curhat yang tulus bagi sister yang lagi butuh pertolongan.
Kamu  juga mau kan jadi teman curhat saya? ;)
This post is dedicated to my bestfriend yang telah memutuskan meninggalkan gemerlapnya kota Jakarta. I missed you!
Orignal From: Wanted: Teman Curhat
Hari sabtu pagi yang cerah ini dapet kesempatan ikut nonton film persembahan terbaru dari Mizan Production dan Smaradhana Production:Â Emak Ingin Naik Haji (EINH) dari Imazahra. Thanks very much dear for your kind invitation ;)Â Film ini diangkat dari cerpen karya Asma Nadia berjudul sama.
Dari cerpen diangkat menjadi film... hm... banyak lemaknya nggak yah? Pikir saya. Tapi as usual, dengan pembawaan tenang dan nothing to lose, I watched the movie.
Film ini bercerita tentang seorang Ibu yang biasa dipanggil Emak, yang mempunyai cita-cita mulia untuk naik haji, meskipun hidupnya kurang mampu. Sang anak lelaki (Zein) yang ditinggal istri karena terbelit masalah keuangan, memahami sekali niat dan maksud ibunya, namun nyaris tak bisa apa-apa untuk mewujudkan mimpi ibunya karena ia juga kekurangan. Kemudian Zein didorong rasa putus asa dan sayang ke ibunya, mencoba berbagai cara untuk memberangkatkan ibunya ke Tanah Suci, salah satunya dengan berbuat hal yang tak terpuji.
Intrik yang kemudian timbul adalah saat membandingkan niat Emak yang tulus untuk ke tanah suci, dengan niat tetangganya yang sudah berkali-kali ke Mekkah (kali ini hanya untuk Umroh dengan artis) dan niat salah satu pemimpin partai politik yang ingin menang dalam pemilu dengan menggunakan gelar Haji. Tiga cerita ini kemudian bermuara pada satu titik yang sama untuk memberikan kesimpulan akhir pada cerita. Katanya sih, Mbak Asma terinspirasi dengan plot film Babel-nya Brad Pitt.
Setelah nonton 10 menit, I thought, siapa nih penulis skenarionya?! Skenarionya ditulis dengan simple tapi sarat makna, menyentuh dan fat-free oleh dynamic duo Adenin Adlan & Aditya Gumay. Tambah salut setelah tahu Adenin Adlan bikinnya cuma 3 hari. Mak... I've been there, and know exactly that nulis skenario itu susyahnya mincha ampyyunn *Cinta-Laura-mode-on*
Skenario ini kemudian dieksekusi dengan keren oleh sang sutradara (yang menjanjikan), Aditya Gumay, serta akting hebat  pemain-pemain watak seperti Aty Kanser (Emak), Reza Rahadian (Zein, sang anak), Didi Petet, Henidar Amore, Cut Memey, Ayu Pratiwi, dll, membuat film ini mengalir mantap tanpa dipaksakan. What a brilliant movie supported by the greatest team!
Beberapa kali gue denger Ima terisak dari kursi sebelah. Film ini memang sangat menguras air mata. Ima nanya dengan sewot, "Kok kamu nggak nangis sih, Li?" Hehehe. Maap, masalah air mata memang sulit. I don't even cry on my wedding, so.... :D (Kayaknya kelebihan hormon testosteron). Tapi bukan berarti nggak nangis sama sekali. Bagian cerita yang menyebutkan tanah suci Mekkah, Ka'bah, foto-foto Mekkah & Ka'bah paling menyentuh buat saya. I missed them like an old friend. Kapan yah kesana? Emak benar-benar membuat saya kembali me-review batas kemampuan saya (financially) dan mulai berpikir untuk membuka tabungan Haji. Apakah seharusnya saya sudah mampu? Salah satu quote dari film ini terasa begitu mengena, "Ke tanah suci menunggu panggilan? Panggilan Allah? Mati dong...!"
Satu 'ups' nya movie ini sebenarnya bukan di dalam movie-nya itu sendiri tapi di sarana promosi/graphic/brosur-nya yang menampilkan foto yang menurut saya sedikit spoiler sehingga penonton bisa menebak arah ceritanya.
Anyway, setelah film selesai dengan cantiknya, saya, Ima dan teman-teman langsung merubungi Mbak Asma, Emak (Aty Kanser), Adenin Adlan dan Aditya Gumay untuk foto bersama sekaligus mengucapkan selamat atas kerja luar biasa mereka. So happy buat Mbak Asma yang karyanya bisa diwujudkan sebagus tulisannya. Benar-benar impian semua penulis untuk memfilmkan karyanya seperti ini. Emak (Aty Kanser) & Zein (Reza Rahadian), congratulations, the chemistry is unbelieveable! Benar-benar seperti ibu dan anak yang saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. And last but not least, Adenin Adlan dan Aditya Gumay, you're the star, you're the best! Semoga bisa terus berkarya menghasilkan masterpiece untuk menginspirasi kita semua ;)
So, I really hope you could also watch film Emak Ingin Naik Haji mulai 12 November 2009 bersama seluruh keluarga, karena each and every family member will get different inspiration & message from this movie. Believe me!
Kalian yang menonton serta membeli buku Emak Ingin Naik Haji juga telah ikut serta dalam membantu para soleh dan solehah yang ingin ke Mekkah namun kondisi ekonominya masih belum memungkinkan. Awesome!
Jadi, kamu mau daftar Haji dulu apa nonton filmnya dulu? :D
Simak behind the scene pembuatan film Emak Ingin Naik Haji di Blog Mbak Asma
Orignal From: Film Emak Ingin Naik Haji

A decent looking teenager sit beside me while I was waiting for a  taxi at Plaza Senayan. He blurted, "Sister, do you have a job for me?"
I winked at him for a second, still playing with the iPhone. This is Jakarta. Where you could meet all kind of people that will do anything to get into your pocket. I'm just as skeptical as 99% of Jakarta people. So I asked him almost with zero interest, "What kind of job do you need?"
"Anything," He said almost instantly.
"Where are you from?" I asked him, while updating my status on Twitter.
"I came from Bogor... I go to Jakarta, to get a job...." He said. His eyes look tired and sad.
"What did you do for a living in Bogor?"
"I worked on printing company... Engkoh back to Java and close his business...," his eyes wandering.
I nodded. Thinking hard. Analyzing.
"Astaghfirullah, it's dark already...," he smiles bitterly. "It's my second day in Jakarta, sister. Yesterday I stayed in a mosque. I must get Rp 175.000 for my parents in Bogor."
"What for?"
He mumbles stuff, bills related, that I can't understand. I decided to stay quiet.
"I went to Palmerah market to get a job. Helping people carry their stuff. I got a client and he paid Rp 3.000. But somebody came and grabbed me by my shirt collar. He wanted me to go away." He told me his story with very expressive way.
"Oh no, you can't just go to Jakarta and jumped in the traditional market. Premans are everywhere!" I said to him with concern.
"Yes... premans are truly there, sister. I thought they only in movies." He said, almost chuckle. Laughing his own pain.
I sit still, drowning in my own thought. Thinking. Try to decide. Is he for real? Should I help him?
"Sister... people in the taxi line... it must be easy for them to get Rp 175.000 right?" He said, almost wondering.
"Of course, they're rich people."Â We watched as Alphards, Ferraris, Mini Cooper, Volvo, BMW, etc come and go picking their owners.
"How did you get here from Palmerah?" I asked him after minutes of silence.
"I walked," he smiles and touching his torn shoes spontaneously.
Silent sigh in my part. I have decided to help him. But how much? All that he said he needs? Or part of it? Or...
"Sister, I must go now...," he said, smiling. He didn't know where to go for sure.
"Wait! Are you gonna go home?" Â Stupid question.
"Of course sister, after I get that Rp 175.000. I still have Rp 7.000 in my pocket. I can go back by train once I collected the money...," then he excused himself once again.
"Wait! Come here!"
I put my iPhone and grab my purse. I decided to help him, all that he needs. I don't want to regret my entire life for not helping him.
"Take care of yourself. And go home as soon as possible! It's very dangerous outside."
He's  not a street kid. He's risking his life for Rp 175.000 because his family need it so badly.
He gasps and whisper, "Alhamdulillah... thank you very much sister...."
I nodded quickly. Refused to see his eyes. Then he walked away.
I let out a heavy sigh. If he's telling the truth, then he just one out of thousands people trying to find fortune in Jakarta. Some made it, some lost in the way.
As the taxi drove us away, I asked to Jakarta: how many dreams can you made come true tonight?
Orignal From: Jakarta: City of Hope